6 Maret 2016

Chapter 2 : The Start of Story



          Siang itu sama seperti biasa, hanya saja kali ini, agak spesial. “Pagi Riku, ada apa? Wajahmu terlihat mengerikan” sapa Ai-chan (teman sejak kecil), “Aku tidak bisa tidur tadi malam” balasku. “Riku, bagaimana kalau kali ini kita berempat pergi ke karaoke??” kata Shun, salah satu temanku, “uhm...” kataku pura2 berpikir ,“Riku-san, tolonglah ada seorang gadis yang kusukai, dan dia juga menyukai anime dan manga, jadi aku membutuhkan pertolonganmu, aku mohon” katanya, Oga dan Amano (temanku juga) ikutan berlutut, dan “haah, baiklah, tapi hanya kali ini saja” kataku seraya merapikan meja, “benarkah Riku-san?? Kau adalah penyelamatku, walupun kau pen....” kata2nya behenti karena Oga dan Amano menutup mulutnya, “huh? Tadi kau bilang apa? Aku tidak dengar” tanyaku, “bukan apa2 koq” kata mereka serempak seraya tersenyum.
                Kemudian, saat kami hendak menuju perempatan perumahan, tiba-tiba dari langit muncul sebuah lubang hitam dan muncul seorang wanita dengan jubah ungu seperti seorang Geisha dari lubang itu sembari berkata “Fufufufu, Mawar Merah, akhirnya kutemukan kau” katanya dengan hawa pembunuh yang kuat, tiba-tiba dadaku terasa sakit lagi dan kali ini di dada kiriku mengeluarkan cahaya merah berbentuk mawar dan tubuhku tidak bisa bergerak, ketiga temanku mundur perlahan-lahan tapi seolah-olah tubuh mereka kaku, “Mati kau” kata wanita itu seraya maju dan mengarahkan sebuah jarum yang diambil dari rambutnya padaku, tiba-tiba “JDER!!!” sebuah petir menghalangi wanita itu “sialan, siapa yang berani menghalangiku??” katanya marah, aku menengok pada awal petir dan mendapati 2 laki-laki yang masing-masing memakai baju kuning dan berambut kuning dan seorang lagi memakai baju hitam dan berambut hitam serta seorang gadis memakai baju SMA yang sama denganku berdiri di situ, “Maaf ya, tapi kami tidak akan membiarkan kau melukai teman kami begitu saja” kata yang berbaju hitam sembari tersenyum. Tiba-tiba gadis itu, melakukan sebuah gerakan tangan yang sangat cepat, aku bahkan tidak bisa melihatnya, dan mengucapkan “PROTECT” dan sekali lagi “RELEASE”, dan teman-temanku pingsan, serta tubuhku bisa digerakkan lagi. “Akagi, aku akan melepaskan segelmu sekarang juga, Kurogi, Raido, lindungi aku” katanya sambil mengangguk dan berlari ke arahku, tapi rupanya wanita itu sudah lebih dulu bergerak dan menembakan cahaya dari tangannya pada gadis itu, tapi Kurogi dan Raido berhasil menahan serangan itu, “Cuih, bawahan kotor, mati kalian, Rudolf” teriaknya dan muncul sebuah langit di langit dan mengeluarkan seekor Falcon Raksasa dan menyerang Kurogi dan Raido, aku hanya bisa terbengong dan tertunduk, ketika gadis itu menghampiriku dan berkata “Akagi, aku senang bertemu lagi denganmu” katanya tersenyum sambil melakukan segel tangan dan berucap “Fuin Jutsu : Release Sign” dan mengarahkan ke dada kiriku. “AAAAHHHH” teriakku kesakitan , “wanita itu sudah memulainya, aku harus cepat membunuh anak itu sebelum Tuan ‘EN’ marah padaku” kata wanita itu dalam hati sambil mengeluarkan sebilah pedang yang berubah dari gigi taringnya, dan berlari ke arah si gadis  dan “CCRROOTTT”, aku dengan refleks melindungi gadis itu, karena tubuhku bergerak sendiri, “Sudah, lari sana, aku tidak tahu siapa kau, tapi setidaknya, terima kasih telah mau mengingatku” kataku sambil menahan tangan wanita jahat itu dengan erat dan tersenyum, “bocah brengsek, kau tidak tahu siapa yang kau lawan, hah??” katanya dengan marah, “Heh, aku tidak mengenalmu juga, tapi aku tidak akan membiarkan siapapun terluka lagi, uuuaaahh!!” kataku sambil kesakitan.
                “Hirano-Hime, bertahanlah” ucap Raido sambil mengeluarkan petir dari tangannya, “jadi namamu Hirano-san?? Nama yang indah, aku berharap masih ada waktu untukmu” ucapku seraya tersenyum. “dan kau wanita sialan, jika aku mati, setidaknya aku mati bersamamu, ” ucapku sambil menatap ke mata wanita jahat itu, “PPLLAAKK” gadis itu menamparku dan berkata “itu adalah hakku sebagai Queen, bukan dirimu, Akagi bodoh” katanya sambil memelukku dan sesuatu yang hangat terasa keluar dari tubuhku, dan tubuhku terasa panas, wanita itu terpental jauh ke belakang bersama Falcon itu. “Plasshhh” cahaya itu hilang dan aku mendapati tubuhku meninggi dan ada lambang mawar merah di dada kiriku, “Huh, akhirnya dia “terbangun” juga, tapi tanpa bantuan “Queen” itu mustahil” ucap Raido, “dia menghancurkan segel itu tanpa bantuan “Queen”?? Itu bukan mustahil, saat seorang Rose Knight berada pada batasnya, dia bisa melewati “Batas” itu” kata Kurogi menjelaskan, aku yang masih terbengong, mendapati tubuh, rambut merah, serta bajuku yang berwarna merah merasa tidak percaya, “jadi kau sudah ‘terbangun’  ya?? Mawar Merah ke-7 ??” kata Hirano melepas pelukannya dan tersenyum, “ayo, keluarkan kekuatanmu, dan hajar wanita Doriaga itu” katanya. “Aaaaahhh, brengsek kau, Queennnnn!!, kau melepas segel itu lagi dan membuatku nyaris mati, Rudolf, kita bergabung” kata wanita itu sambil melukai jempolnya dan menapak tangannya ke kepala falcon , dan menyatu dengan Falcon tersebut, dan hasilnya wanita itu mempunyai sayap dan armor dari Falcon tersebut. “jika seperti ini, kekuatan bayanganku tidak akan berguna, tapi api milik Riku dan petir milik Raido bisa mengimbanginya, mungkin” kata Kurogi berjalan ke arahku bersama Raido, “Namaku Shun ‘Kurogi’ Namami, dan yang satu ini Ban “Raido” Kurosawa” seraya menyalamiku bersamaan dengan Raido, “jadi, apa kami bisa mengharapkanmu, Ruki “Akagi” Amano-kun??” kata Hirano. “tapi aku tidak tahu caranya mengeluarkan kekuatan seperti itu dan aku bahkan tidak mengenal kalian” ucapku,  “kami bergantung padamu, Akagi” ucap Kurogi seraya menepuk bahuku. “Hanya keluarkan seperti kau mengeluarkan pukulanmu, Akagi-san” kata Raido sambil mendorongku. “Eh?? Tunggu sebentar, apa? kekuatanku??” tanyaku bingung, “merah atau unsur Api” ucap Raido dan Kurogi secara bersamaan. “Api??, baiklah sepertinya aku tidak punya pilihan lain” pikirku serasa karakter utama dari sebuah anime. “Ayo, bocah” ucap Raido sembari menepuk pelan dadaku.
                “Aku mulai, Raiton : Seven Thunder Sword” katanya setelah melakukan segel tangan, “Kekuatan seperti ini, kau berpikir bisa melukai Sanzuro ini, bocah kecil?? Hahaha” kata wanita itu sambil terbang menghindari serangan dari Raido dengan mudahnya, “Akagi, sekarang, lakukan itu” lanjut Raido, “eh? Apa? Apa?” tanyaku bingung, “apa saja, bodoh” teriak Hirano, “mungkin itu bisa, Katon : Fireball” pikirku dan bola api keluar dari mulutku dan mengenai sayap Sanzuro walau berefek kecil. “aku mengharapkan yang lebih baik, Mawar Busuk, hahahaha” ucap Sanzuro mengejekku. “Apa yang bisa ku lakukan lagi?” pikirku. “pernahkah kau menonton anime ‘Fairy Tail’??” teriak Kurogi, “ya, salah satu anime favoritku, lalu apa?” teriakku, “bertarunglah seperti Natsu Dragneel” lanjut Kurogi, “Natsu? Aku mengerti, kekuatanku sama sepertinya”pikirku optimis dan mencoba mengeluarkan api dari tangan, dan berhasil, aku mencoba menghentakkan api ke tanah dan melompat terbang dan mengeluarkan api dari kaki dan berputar ke arah Sanzuro dari belakang, “Katon : Spinning Fire Kick” teriakku, “Raiton : Electric Wheel, dengan ini kau, tidak akan bisa bergerak, Kurogi” teriak Raido sambil melompat jauh, “aku mengerti, Kageton : Shadow  Whip, aku akan menahan sayapnya, Hirano” teriak Kurogi sambil melakukan segel tangan, “Ya dimengerti, ‘Strength’ pada Akagi” ucap Hirano, dan tiba-tiba putaran apiku semakin kuat dan menebas sayap kiri Sanzuro dengan mudah. “Cih, aku tidak akan mati dengan semudah itu, lihat saja balasanku nanti” ucap Sanzuro seraya menghilang. “Baiklah, bagaimana kalau kita kembali ke markas, untuk merayakan kembalinya Akagi dan mengatur gerakan kita selanjutnya” ucap Hirano, “apa kau baik-baik saja, Akagi?” kata Kurogi seraya bertanya padaku, “a..a..ya, aku rasa, dan ada yang harus kutanyakan tentang semua ini” ucapku terbata-bata, “Baiklah, tapi tunggu sebentar, ‘RELEASE’” kata Hirano untuk mengembalikan keadaan temanku seperti semula yang diikuti dengan larinya mereka. “ayo, ikuti aku kalian bertiga” kata Kurogi sambil melakukan segel tangan “’Kageton : Dark Gate’” ucapnya dan muncul sebuah gerbang dan kami pun masuk ke dalam sana. Di atas gedung, seorang pria berambut oranye tersenyum sambil membawa mawar oranye di mulutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar