7 Maret 2016

Chapter 3


Lalu, kami tiba di rumah yang besar dan mewah seperti istana, “Kita sudah sampai di markas, Hirano-Hime” ucap Kurogi dan Raido bersamaan seraya berlutut dan diikuti orang-orang dari istana, salah seorang seorang pelayan menyuruhku berlutut. “Hirano-Hime, selamat datang kembali” ucap semua pelayan hampir bersamaan. “Oujo Hirano-sama” kata salah seorang pelayan yang berpakaian ala bartender seraya membungkuk, “Richard, bisa tolong kau urus anak itu?” sembari menunjukku, “dia.. ‘Sang Merah’ kah? “ tanya pelayan yang bernama Richard itu, “Ya, untuk sementara, aku akan mandi dulu, aku mengandalkanmu” ucap Hirano sembari menaiki tangga. Tapi, pada anak tangga ke-5, dia berucap “Akagi, ikutlah bersama Kurogi, Raido, dan Richard untuk penjelasan lebih lanjut, aku tahu kau punya banyak pertanyaan tentang hal ini dan bersiap untuk nanti malam” tanpa menoleh sedikitpun. “Riku, ikut aku, aku akan menjelaskan tentang hal ini padamu, Kurogi dan Raido juga” kata Richard sambil menarik lenganku, Raido dan Kurogi hanya bisa mengangkat bahu.
                “Kreeettt” Richard membuka pintu dan menyuruh kami bertiga masuk, “ini adalah ruang rapat kami yang dinamai ‘The Branch’, hanya ‘The Six Rose Knight’ dan ‘Queen’ serta hanya orang yang dipercayai oleh ‘Queen’ yang bisa memasuki ruangan ini” jelasnya pada kami. “‘The Six Rose Knight’?” tanyaku, “aku yakin kau pernah menerima sebuah surat yang berlambang 6 mawar yang mengelilingi sebuah kartu Queen, bukan?” tanyanya, tiba-tiba aku teringat dan mengeluarkan surat itu dan 5 mawar lain menghilang, hanya tersisa warna merah, “Hey Akagi, lihat ini” ucap Raido menunjukan surat miliknya yang hanya tersisa warna kuning, begitu pula dengan Kurogi yang tersisa warna hitam, “yang tersisa dari 6 mawar itu adalah tanda bahwa kau sudah terpilih menjadi salah satu dari ‘The Six Rose Knight’” tekannya, “aku akan mulai dari sejarah awal perang terkutuk ini, perhatikan baik-baik” lanjutnya sambil menyalakan sebuah monitor. “dahulu kala, di tahun 1924 di sebuah kerajaan Inggris, terdapat seorang putri yang mempunyai penyakit langka, menurut para tabib di sana, bahwa dia akan mati dalam waktu dekat, kecuali jika dia dilindungi oleh 6 mawar yang masing-masing dari 6 orang yang berbeda, yaitu Merah, Putih, Biru, Kuning, Hitam, dan Orange. Para pengawal sudah mengumpulkan 5 orang itu, kecuali merah, dibutuhkan sekitar 3 tahun, dan merupakan ksatria yang paling setia” ucapnya sambil menarik napas melanjutkan, “pada mulanya, tidak ada yang terjadi, hanya saja salah seorang dari pegawai istana melakukan kontrak dengan Doriaga dan berencana melakukan kudeta besar-besaran, suasana istana yang awalnya damai, menjadi kacau akibat kudeta tersebut, dan tidak sedikit para pengawal istana yang tewas. Pada saat pertarungan terakhir, mawar orange dan kuning mengorbankan nyawa untuk menahan serangan dari Doriaga, tak terkecuali Biru dan Hitam, hingga yang tersisa adalah Mawar merah dan putih, disaat detik-detik terakhir, mawar putih melakukan jutsu terlarang yang merenggut nyawa dan mempercayakan ‘Queen’ pada mawar merah yang merupakan sahabat dan rivalnya juga, dan menyegel Doriaga secara bersamaan. Tapi, 5 kali berturut-turut, hal ini terjadi dan terulang secara misterius di bebagai kota di seluruh dunia, dan kali ini yang ke-7 kalinya dan terjadi di Jepang, untuk sementara kami hanya bisa menemukan Hitam, Kuning, dan Merah, serta Putih yang belum bisa teridentifikasi keberadaannya.” ucap Richard seraya mematikan monitor, “Akagi, apa ada pertanyaan darimu?” tanyanya, aku hanya bisa menggeleng karena masih belum mengerti akan kejadian itu, “aku minta maaf karena belum memperkenalkan diriku, namaku Richard Kiriyama, salam kenal” katanya sambil tersenyum walau hanya sedetik, “ayo kita keluar, aku akan menunjukan kekuatan dari ‘The Six Rose Knight’ yang sebenarnya, Kurogi, Raido” kata Richard, “Huh, lagi? aku capek beberapa hari ini, Richard yang malang” kata Kurogi sambil meletakkan tangan di bahu Richard, “Senpai, bukankah itu perbuatan yang tidak baik?” kata Raido sambil menjentikkan jari, “Oh, apa kau cemburu? Honey?” tanya Kurogi sambil memegang dagu Raido yang menjadi seperti adegan Yaoi tengah malam, dan diakhiri dengan dipukulnya kepala Kurogi sama Richard dengan kipas yang dibawanya. Malam itu diakhiri dengan pesta kecil untuk menyambut kedatanganku, entah apa yang merasukiku, aku seolah tidak bisa mengontrol  diriku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar